“Kara, akhirnya datang juga kamu, abis
dari mana kamu lama banget”. Omel Arsya saat aku baru datang.
“Crewet banget kamu”. Jawabku, langsung
duduk dan menyeruput cappucino milik Arsya yang udah agak dingin karena lama
menungguku.
Aku
udah tau pasti dia ngajakin aku makan itu buat mau cerita tentang teman cewek
barunya lagi. Arsya sahabat tersayangku. Kita sahabatan udah hampir 5 tahun,
selama itu juga aku harus memendam perasaanku sendiri. Arsya terkenal dengan
cowok keren dan sering gonta-ganti pacar di kampusku dulu. Aku sampai cape buat
ceramahin Arsya. Mau ngga mau aku harus siap dengerin ceritanya yang selalu
sama hanya yaitu cewek-ceweknya. Sebenarnya dia ankanya kalau udah cinta sama
satu orang pasti dia akan setia. Tapi semenjak ditinggal pergi sama pacarnya
karena kecelakaan 4tahun yang lalu, sikap Arsya jadi berubah. Aku harus sabar
ngadepin sikap Arsya yang seperti ini.
“Cewek mana lagi yang mau kamu
ceritain?” tanyaku sambil memainkan i-pad ku. Aku selalu sewot kalau Arsya udah
cerita tentang teman-teman ceweknya. Pertanyaanku aku buat setenang mungkin,
walaupun sebenarnya aku sedikit cemburu, setiap kali dia bercerita tentang
teman-temannya itu.
“Tau aja kamu, aku lagi deket sama temen
nya si Raka , masih inget kan Raka yang sekampus sama kita dulu. Besok aku
kenalin sama kamu ya. Kamu harus dateng”. Cerita Arsya semangat. Aku males
banget dengerin cewek-ceweknya dia.
“Oh Raka. Ogah, males banget deh, cuma
itu aja kan yang mau di ceritain. Udah ah aku ke butik dulu.” Aku langsung
pergi ninggalin Arsya yang masih mengunyah makanannya.
“Heh kamu mau kemana. Bentar banget,
belum selesai ini aku ceritanya”. Kata Arsya, berteriak. Suasana cafe masih
sepi jadi suara Arsya terdengar keras.
“Males”. Jawabku dan sudah benar-benar
meninggalkan cafet itu.
Diperjalanan akan ke butikku. Aku
mendapatkan bbm dari Arsya yang isinya ngomel-ngomel ngga jelas, gara-gara aku
langsung pergi aja. Aku hanya tersenyum membaca bbm dari dia. Dan ku letakan
kembali bb ku ke dashboard. Kapan si kamu
peka, kalau ada orang yang benar-benar sayang sama kamu Sya, yang selalu ada
disamping kamu, gerutuku. Jalanan sudah ramai, cuaca pagi ini begitu panas.
AC mobilku aja terasa panas gara-gara ngedepin kelakuannya Arsya.
Setlah kejadian di cafe pagi itu,
beberapa hari aku ngga ketemu Arsya, dan menolak ketemu sama pacar barunya.
“Assalamungalaikum tante”. Suara itu
seperti suaranya Arsya. Saat itu aku sedang menonton televisi sama bunda dan
adik perempuanku. Saat menengok kebelakang ternyata benar itu benar Arsya.
Arsya sering main kerumahku seperti saat ini. Kita sering bercerita-cerita
diteras depan rumah sampai malam, itu kebiasaan kita. Arsya juga udah akrab
sama bunda, ayah dan adikku, karena seringnya dia kerumah. Arsya langsung berjalan
kearah bunda dengan memberikan martabak manis kesukaan bunda. Bunda sangat
senang kalau Arsya main kerumah, suasana dirumah jadi tambah rame dengan
tingkanya Arsya yang kadang bikin kita ketawa.
“Arsya makasih ya. Kamu udah makan
sayang?” kata bunda .
Sebelum Arsya menjawab sudah aku jawab
terlebih dulu.
“Dia udah makan tadi bun, sama pacar
barunya”. Aku langsung berjalan menuju halaman belakang rumah yang dihiasi
dengan taman kecil dan sebuah kolam renang.
“Kak Arsya, mba Kara cemburu itu” teriak
Keysha adikku yang diikuti ketawa Bunda dan Arsya. Mendengarkan perkataan
Keysha, aku membalik terus mengambil bantal dan aku lemparkan ke arah Keysha.
Aku balik berjalan lagi dan diikitu oleh Arsya.
“Cie yang cemburu” kata Arsya
dibelkangku dengan ketawa meledeknya.
“Ngga usah rubes! Ada apa kesini
malem-malem?”. Tanyaku setelah duduk di salah satu sofa di teras belakang.
“Kangen kamu!”
“Pret”.
“Beneran
Ra. Udah beberapa hari kita ngga ngobrol kaya biasa. Udah diajak pergi ngga
mau. Ketemuan ngga mau. Bbm cuma di read aja.”
Aku diam sejenak , menatap Arsya
lekat-lekat, kemudian aku tersenyum.
“Iya deh maaf”. Jawabku
Akhirnya
aku dan Arsya bisa ngobrol-ngobrol ngga jelas lagi sampai lupa waktu. Iya ini
masa-masa yang aku kangenin. Waktu kebersamaanku dengan Arsya berkurang setelah
dia punya pacar baru lagi. Arsya pulang dari rumahku sekitar jam 12. Paginya
aku jadi bangun kesiangan.Setelah selesai semua, aku siap-siap ke butik baut
nemenin pegawai-pegawaiku.
“Bunda aku mau kebutik ya” kataku sambil
makan apel yang sudah di kupas sama bunda. Stelah salim cium tangan bunda, aku
langsung mengarahkan yarisku ke ( ).
Pertemuanku
dengan Arsya semalam membuat rasa kengenku berkurang. Some poeple say, you can
only get jealous when you feel insecure. Mungkin benar somehow aku merasa takut
kehilangan Arsya semenjak dia punya pacar baru yang katanya si namanya Sita.
Biasanya aku ngga takut bakalan kehilangan Arsya, setiap dia punya pacar baru,
tapi aku yakin si my love yang ngga love aku itu akan tetap ada buat aku.
Saat aku sedang melayani pembayaran
para pembeli. Si Arsya tibatiba datang dan mengjak makan siakng diluar. Tapi
aku menolaknya, Akhirnya Arsya yang mengalah dan memesan makanan yang akan
diantar kebutik. Arsya datang itu pasti ada yang mau diceritaiin, aku bisa
menebak itu. Sambil menunggu makanannya datang, aku duduk manis menghadap ke
Arsya dan mendengarkan ceritanya, sesekali akuu cuma menanggapinya dengan “oh” “oh iya” “kok bisa
si”. Tapi setelah seleai mendengarkannya bercerita aku selalu memberikan
nasihat dan solusi buat Arsya, sebaiknya harus gimana. Sampai makanannya datang
dan mulai dingin Arsya masih belum menyelesaikan ceritanya.
4
hari setelah ketemuan kemarin waktu di buik. Arsya mengajakku makan ditempat
biasa kita nongkrong berdua. Serius deh 4 hari aja ngga ketemu sama Arsya itu
kangennya pake banget. Kalau dia ngga punya pacar, dia hampir setiap hari pasti
ngajakin pergi, cuma sekedar hunting foto malem-malem, dan makan cari tempat
makan yang belum pernah kita coba. Aku dan Arsya janjian jam 7, tapi aku telat
15 menit. Seperti biasa aku yang telat dan Arsya setia menunggu. Sebelum aku
sampai disini aku ditelvon Arsya untuk memesan makanan apa, suapaya aku sampai di cafe tinggal langsung
menyantapnya.
“Kebiasaankan, janjiannya jamberapa datangnya
jamberapa”. Kata Arsya sesampainya aku di hadapannya.
“Brisik deh, udah tau kebiasaanku kaya
gini. Ngga usah rempong kamu”. Jawabku
sambil menaboknya denga tasku yang lumayan banyak isinya. Dan membuat Arsya
kesakita.
“Heh. Itu tas isi apa si, isinya batu
ya. Sakit tau” omelnya.
“Biarin, salah siapa aku datang langsung
disambut sama omonganmu yang nyebelin”. Setelah duduk aku langsung makan
makanan yang tadi sudah di pesan oleh Arsya.
“Kemarin aku ke butikmu, tapi kamu ngga
ada. Terus kata pegawaimu kamu pergi sama cowok. Emang siapa cowok itu?pacar
baru kamu? Kok ngga pernah cerita?” tanya Arsya sambil menikmati makanannya.
“Temen. Kamu kan sekarang sibuk sama
pacar barunya kamu.”
“Tapi kata pegawaimu , kamu deket banget
sama dia.”
“Biasa aja kok, just friend,okeh.”
Kataku sambil melanjutkan makan.
“Kamu sayang, suka sama cowok itu?”
tanya Arsya lagi dengan terus menatapku.
Aku masih diam belum menjawab
pertanyaannya. Sayang, suka? Pengin banget aku teriak dimukanya terus bilang “Aku sukanya cuma sama kamu Arsya Anggara
Putra!”. Saat aku akan menjawab, tiba-tiba bb Arsya bunyi, sekilas aku
melihat dilayar hpnya ada nama Sita, dia lagi.
“Bentar ya sayang” Kata Arsya sambil
mengedipkan salah satu matanya, dan mengacak-acak rambutku.
Kenapa pake acara pergi coba, emang ngga
bisa ngangkat telvonnya disini aja, omelku dalam hati. Menunggu Arsya balik aku
menyelesaikan makannya.
“Ra maaf banget ya aku harus pergi
sekarang” Kta Arsya setelah kembali.
“Ketemu Sita?”
“Iya”.
“Harus gitu ya sekarang, tega banget deh
kamu. Kita baru sebentar disini, makannya aja belum abis. Kamu juga yang
ngajakin aku kesini, masa kamu mau ninggalin aku disini. Ketemunya besok bisa
kan?” Kataku mulai kesal.
“Aku kan kangen kamu Sya” Bentakku.
“Iya maaf Ra, aku juga kangen sama kamu.
Tapi dia sekarang lagi butuh bantuan aku, masa aku ngga mau. Aku ngga enak”.
Terus dia ngga
ngerasa ngga enak ke aku gitu? Udah dibela-belaiin datang padahal aku itu abis
dari perjalan jauh dari Jogja, baru sampai dan masih capek. Terus suruh datang
kesini dan akhirnya ditinngal gitu aja.
“Terserah kamu deh Sya, aku males sama
kamu”. Aku beranjak dari kursi dan langsung pergi ninggalin Arsya yang masih
pasang muka ngga enak. Mulai detik ini juga aku berjanji bakalan nglupain kamu,
Sya! Ahh mungkin ini sudah berapa ratus kali aku bilang kaya gini. Zzzz
Hari
ini aku minta ijin sama bunda, buat pergi ke Jogja. Buat nenangin diri. Tapi
bilang ke bunda ngga mungkin kaya gitu. Di Jogja aku bakalan nginep di rumah
tanteku, adik dari ayah. Dengan berbagai alasan dan rayuan karena kamerin aku
juga udah dari Jogja, akhirnya dibolehin lagi sama bunda. Saat itu juga aku
langsung lari menuju kamar dan menyiapkan semuanya. Aku ambil penerbangan sore
dari bandara Husein Sastranegara menuju bandara Adisucipto.
Di
bandara Adisucipto aku dijemput sama tante dan omku. Sampai di rumahnya aku
langsung istirahat. Selang 1 hari, aku dikagetkan oleh kedatangan Arsya. Pasti
yang ngasih tau aku disini, siapa lagi kalau bukan bunda. Arsya mengajakku
pergi ke cafe dekat rumah tanteku. Kita hanya memesan 2 creamy cappucino.
Sambil menunggu datang, Arsya mulai membuak pembicaraannnya.
“Kara, maafin aku soal waktu itu kita
lagi makan, maafin aku ya”. Kata Arsya dengan menggenggam tanganku.
“Hmmm”. Jawabku.
“Kok gitu aja si jawabnya, masih marah
ya? Aku kangen sama kamu Ra. Aku kangen sama bbm-bbm ngeselin kamu. Udah beberapa ngga ada bbm-bbm
rese kamu. Aku butuh kamu, ngga ada kamu hati aku berasa sepi, aku takut
kehilangan kamu. Aku baru sadar selama ini aku punya pacar selalu bubar dan
cuma jalan sebentar. Tapi sama kamu hubungan kita baik-baik aja udah jalan 5
tahun kita berteman selalu nyambung terus”. Jelas Arsya panjang lebar. Membuat
aku diam dan bingung.
“heh lagi kesurupan apa si kamu
ngomongnya ngga jelas gitu”. Ucapku sambil sambil tertawa untuk menutupi hatiku
yang tiba-tiba menjadi ngga karuan. Tapi Arsya kayanya benar-benar lagi serius,
dia melanjutkan bicaranya.
“Aku cinta sama kamu, mau ngga jadi
pacar aku?”
Dadaku mearsa sesak setelah mendengar
ucapannya barusan. Aku ngg atau ini beneran apa ngga.
“Becandaan kamu norak tau” kataku sambil
minum yang udah mulai dingin.
“Aku ngga becanda Ra”
“Bohong!”
“Apa pernah selama ini aku bohongin kamu?”
Ya Alloh. Akhirnya kata-kata yang sudah
lama aku tunggu-tunggu dari dulu, terucap juga dari mulutnya.
“Kenapa kamu baru bilang sekarang Sya?”.
“Maksud kamu?”.
“I was expecting it since years ago”.
“Kenapa kamu ngga pernah bilang?” tanya
Arsya.
“Gengsi lha ya, masa cewek dulu yang
ngomong. Ogah” Jawabku sambil tersenyum.
“Makan tuh gengsi”.
“Jadi kamu terima aku?”. Kata Arsya
lagi.
Aku menganggukan kepala denga senyum
bahagia, dan Arsya memelukku.